Misteri Angka 7


Assalamualaikum....
Alhamdulillah, syukur ku panjatkan kehadrat ilahi, selawat dan salam buat junjungan mulia nabi kita muhammad salla Allahu alaihi wasallam, keluarga, sahabat, para tabi'e, tabi' tabie, serta semua ulama semoga dibawah naugan Allah hendaknya... aaamin...
Dzat pencipta yang sangat besar kekuasaanNya & sangat tinggi kalimatNya serta berkesinambungan Nikmat-nikmatNYa Yakni Allah SWT, Telah menghiasai 7 Perkara di dunia diatas 7 Perkara lainnya, untuk memberitahukan kepada orang-orang yang berilmu, bahwa di dalam angka 7 itu terdapat Rahasia / Keunikan yang sangat besar / agung kedudukannya di sisi Allah SWT

Pertama : Allah menghiasi Udara ini dengan 7 Lapis Langit sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat An Naba’ ayat 12, “Dan Kami (Allah) jadikan di atas kamu tujuh (langit) yang kukuh.”


Kemudian Allah menghiasi langit itu dengan Tujuh Bintang. Tujuh Bintang yang di maksud adalah : Bintang Zuhal, Bintang Musytari, Bintang Marikh, Bintang Syamsu, Bintang Zahro, Bintang Athorid, dan Bintang Qomar. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surat Al Hijr ayat 16, "Dan sungguh Kami telah menjadikan gugusan bintang di langit dan Kami telah menghiasinya bagi orang-orang yang memandangnya.”


Kedua : Allah telah menghiasi padang (tanah) yang lapang dengan Tujuh lapis Bumi. Rasulullah SAW pernah menjelaskan : Para penghuni Bumi Lapisan ke-7 adalah golongan Malaikat, Pada lapisan ke-6 di huni oleh Iblis dan para pembantunya, Pada lapisan bumi ke-5 di huni oleh setan-setan, Pada lapisan ke-4 di huni oleh ular-ular, Pada lapisan ke-3 di huni oleh kalajengking, pada lapisan ke-2 oleh jin-jin, dan Pada lapisan pertama adalah Manusia. Kemudian Allah menghias bumi itu dengan tujuh lautan.


Ketiga : Allah telah menghiasi neraka dengan Tujuh Tingkatan, yaitu : Jahannam, Sa’ir, Saqor, Jahim, Huthomah, Ladhoo dan Haawiyah. Kemudian Allah menghiasi pula dari tiap-tiap neraka dengan tujuh Pintu. Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al Hijr ayat 44, "Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka."


Keempat : Allah menghiasi Al-Qur’an (Kitab suci umat Islam) dengan Tujuh surat panjang, Yaitu Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maaidah, An-Nissa', Al 'Araaf, Al An'aam dan Al-Anfaal atau At-Taubah. Kemudian Allah menghiasinya pula dengan Tujuh ayat Ummul kitab (Al-Fatihah/Pembuka kitab). Sebagaimana Firman Allah dalam Surat AL Hijr ayat 87, "Dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung."


Kelima : Allah menghias manusia dengan tujuh anggota badan, yaitu dua tangan, dua kaki, dua lutut, dan satu wajah. Kemudian Allah menghiasinya, dengan tujuh peribadatan, yaitu : dua tangan dengan doa, dua kaki dengan berkhidmat, dua lutut dengan duduk, dan wajah (muka) dengan sujud.


Keenam : Allah menghias umur manusia dengan tujuh tingkatan / tahapan. Pada masa baru lahir dinamakan tahapan rodhi’ (Menyusu), kemudian tahap fa thim (disapih), tahapan Shobiyyi (bayi), tahapan ghulam (masa kanak-kanak), kemudian tahapan syaab (pemuda/remaja), kemudian tahapan kuhul (yakni menginjak usia antara 30-50 tahun), dan menginjak tahapan Syaikh (masa tua).


Ketujuh : Allah menghiasi dunia ini dengan tujuh negeri yang besar, yaitu : 1) Hindustan, 2) Hijaz, 3) Badiyah dan Kufah, 4) Irak, Syam,(Siria), Khurasan sampai Balakh, 5) Roma dan Armenia, 6) Negeri Ya’juj dan Ma’juj, dan 7) Cina Turkistan.


Kemudian Allah menghias tujuh negeri besar itu dengan tujuh hari, yaitu Sabtu, Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jum’at. Dan Allah memuliakan dengan ketujuh hari ini tujuh dari para Nabi, yaitu : Allah memuliakan Nabi Musa, as dengan hari sabtu, Isa Bin Maryam as dengan hari Ahad, Dawud, as dengan hari Senin, Nabi Sulaiman, as dengan hari Selasa, Nabi Ya’qub, as dengan hari Rabu, Nabi Adam, as dengan hari Kamis, dan Nabi Muhammad saw beserta umatnya dengan hari Jum’at.

Adapun manfaat yang dapat di petik dari ke Tujuh hari tersebut adalah :

Hari Ahad : Sebagian Ulama mengatakan bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi pada hari ahad. Maka barang siapa yang hendak membangun sesuatu atau menanam, maka hendaklah pada hari Ahad.


Hari Senin : Hari Senin adalah hari Pelayaran & Perniagaan. Karena telah di jelaskan bahwa pada hari Senin terdapat 7 kelebihan yaitu :

1. Nabi Idris, as. Telah naik ke langit pada hari Senin,
2. Nabi Musa, as. Telah pergi ke bukit Thursina pada hari senin untuk menerima wahyu,
3. Turunnya Dalil tentang ke-Esa an Allah,
4. Lahirnya Rasulullah Muhammad saw,
5. Malaikat Jibril, as. turun untuk pertama kalinya menjumpai Rasulullah,
6. Semua amal perbuatan Umat di perlihatkan kepada Rasaulullah saw pada hari Senin,
7. Wafatnya Rasulullah Muhammad saw.
Oleh karena itu, barang siapa yang berlayar/mengadakan perjalanan maka baiknya lakukanlah pada hari senin.



Hari Selasa : Rasulullah saw di tanya tentang hari Selasa, Maka Beliau menjawab : Hari Selasa adalah Hari Berdarah. Para sahabat bertanya : Mengapa demikian ya, Rasulullah? Lalu Beliau menjawab: Karena pada hari itulah Siti Hawa Haid & Putra Adam membunuh saudaranya sendiri. Sebagaian Ulama telah menjelaskan Bahwa pada hari selasa ada 7 Jiwa yang bernyawa di bunuh, diantaranya :

1. Jurjais bin Fathin (Seorang pemuda ahli Ibadah, ia hidup pada masa raja Dardaniyah yang terkenal dengan penyembahan berhalanya,
2. Yahya, as,
3. Zakaria, as,
4. Tukang sihir Fir’aun,
5. Asiah binti Muzahim, Istri Fir’aun,
6. Sahib, Sapi Betina Bani Israil,
7. Habil Putra Adam, as.
Maka, barang siapa yang ingin berbekam hendaklah ia melakukan pada hari Selasa.


Hari Rabu : Rasulullah saw di tanya tentang hari Rabu, Maka Beliau menjawab: Hari rabu adalah Hari Nahas yang terus menerus. Para sahabat bertanya," Mengapa demikian ya, Rasulullah?" Lalu Beliau menjawab: Karena pada Hari itu Allah telah menenggelamkan (menghancurkan) Fir’aun dan kaumnya, Memusnahkan kaum ’ad dan kaum Tsamud, yakni kaumnya Nabi Sholeh yang ingkar terhadap kerasulan & kenabian Nya. Maka, barang siapa yang hendak sembuh dari sakit, hendaknya ia meminum obat pada Hari Rabu.


Hari Kamis: Hari Kamis adalah hari baik untuk menunaikan Hajat. Karena Allah memerintahkan Penunaian. Maka barang siapa yang berhajat kepada manusia, maka hendaklah ia memintanya pada hari Kamis.


Hari Jum’at : Allah menciptakan Adam dan Hawa pada hari Jum’at, dan kemudian pada hari itu juga Allah mengawinkannya. Maka barang siapa yang mengadakan akad Nikah hendaklah dilaksanakan pada hari Jum’at. Sebagaian Ulama berkata : Telah terjadi Tujuh Pernikahan antara para Nabi dan antara para Auliya’ pada hari Jum’at, yaitu :

1. Pernikahan antara Adam as dengan Hawa,
2. Pernikahan antara Yusuf as dengan Zulaikha,
3. Pernikahan antara Musa as dengan Shafrawa,
4. Pernikahan antara Sulaiman as dengan Balqis,
5. Pernikahan antara Nabi Muhammad saw dengan Siti Khadijah,
6. Pernikahan antara Nabi Muhammad saw dengan Siti Aisyah,
7. Pernikahan antara Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah.

Hari Sabtu adalah Hari makar/Tipu Daya, karena terdapat Tujuh Peristiwa makar dan tipu daya terhadap tujuh orang sholeh / kaum (Kaum Nabi Nuh as terhadap Nabi Nuh as, Kaum Nabi Sholeh as terhadap Nabi Sholeh as, Saudara2 Nabi Yusuf as terhadap Nabi Yusuf as, Kaum Nabi Musa as terhadap Nabi Musa as, Kaum Nabi Isa as terhadap Nabi Isa as, Para pemuka (gembong-gembong) Quraisy terhadap Nabi Muhammad saw, dan Kaum Bani Israil terhadap Larangan Allah . Dan sebagian Ulama juga memaknai hari sabtu adalah hari baik untuk berburu.


Waallahu A'lam


...:: menghiasai 7 Perkara di dunia diatas 7 Perkara lainnya ::...

Masih terbuka...


Assalamualaikum....
Alhamdulillah, syukur ku panjatkan kehadrat ilahi, selawat dan salam buat junjungan mulia nabi kita muhammad salla Allahu alaihi wasallam, keluarga, sahabat, para tabi'e, tabi' tabie, serta semua ulama semoga dibawah naugan Allah hendaknya... aaamin...
Tiada kalimah yang selayaknya ku ucapkan setelah hampir 20 hari kalian menjejakkan kaki di Ardhu Kinanh ini.....

syukran kathira atas kesudian ziarah kami...
syukran atas sekalian perkongsian....
syukran atas semangat....

syukran....


Setelah sekian lama bercuti dari sebarang perkongsian, hari ni rasa nak tengok2 teratak yg kian berdebu kini....

ahhhhhhhh...
penuh debu dan habuk.... mesir la katakan.... debu di mana2.... huhuhu

kalau diikutkan hati banyak perkongsian ingin diledakkan kat teratak ...:: ya akhiii ::... ni.
Diri ini masih terlalu lemah dalam membahagi masa lapang yg sedia ada menyebabkan blog ni terus sepi buat sekian lama....

Kehadiran warga Syam baru2 ini memberi 1001 makna kepada kami di bumi Kinanah ini...
Amiruddin, Afiq n Hasyim....

Kami cuba memberi layanan yang terbaik selaku tuan rumah, harap kemaafan seandainya sepanjang kalian bersama kami ada yang tidak kena pada pandangan kalian.....
dan tak lupa terima kasih untuk buah tangan yg kalian hulurkan sebelum pulang baru2 ni....
geram pun ada...... huhuhuhu

Akan ku cuba melangkah dengan berani atas jalan juang ini, ranjau dan duri akan ku libas semua ketepi.... janji kita pada Tuhan akan sama2 kita kotakan....

Syukur kerna kita dipilih utk bertemu........



...:: ukhuwwah ditaut, perjuangan disimpul ::...


Hukum Pengerusi Majlis Di Kalangan Wanita

Sumber : Manhal PMRAM

MUQADDIMAH

Sejak kebelakangan ini, kita melihat peranan wanita dalam memberi sumbangan kepada Islam tidak dapat dinafikan lagi. Wanita turut menyumbang membangunkan ummah dan dalam perkara membabitkan pembangunan rohani, wanita tidak dikecualikan daripada memenuhi tanggungjawab diri kepada Allah, diri sendiri, keluarga dan ahli masyarakat.

Islam tidak membezakan lelaki dan wanita dalam melakukan ibadat kerana apa yang wajib dan sunat bagi lelaki itulah juga hakikatnya kepada wanita. Begitulah terhadap perkara yang harus, haram dan makruh.

Persolannya sekarang, jika Islam membenarkan wanita memberi sumbangan kepada Islam, adakah menjadi pengerusi majlis dalam satu majlis yang disertai oleh lelaki dan perempuan dibolehkan?


PERBINCANGAN

Untuk menjawab persoalan ini, kita boleh kaitkan hukum keharusan mempengerusikan majlis bagi seorang wanita kepada beberapa bahagian seperti berikut :

1) Adakah suara perempuan itu aurat?
2) Batas pandangan seorang lelaki kepada wanita.
3) Percampuran lelaki dan wanita dalam satu majlis adakah dibolehkan?
4) Hukum wanita menjadi wakil rakyat.

1)ADAKAH SUARA WANITA AURAT ?

Syeikh `Atiah Saqar (bekas pengerusi lajnah fatwa Al-Azhar) ada memberikan beberapa pandangan beliau dalam kitabnya “Ahsanul Kalam Fi Fatawa Wal Ahkam ”, ada menyebut; suara bagi seorang wanita ini mempunyai pandangan yang pelbagai, ada yang mengatakan sebagai aurat secara mutlak manakala golongan yang lain mengatakan bukan aurat secara mutlak.

Daripada perbezaan pandangan ini, kita dapat satukan kedua-dua pandangan tersebut kepada beberapa garis panduan yang telah di tetapkan oleh para ulamak seperti berikut :

1) Sesungguhnya suara wanita pada zatnya bukanlah aurat, kerana sekiranya ianya aurat dalam semua keadaan, ianya akan memberatkan sesuatu yang sukar (attaklif fihi `usr). Ini kerana wanita sangat berhajat kepada perbualan dan saling berhubung dengan lelaki dalam urusan yang pelbagai seperti urusan muamalah.

2) Dalam syarah Sohih Muslim disebutkan peristiwa Saiyyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar Al-Khatab melawat Umu Aiman selepas kewafatan Nabi SAW. Ditaqlikkan oleh Imam Nawawi bahawa harusnya lelaki menziarahi wanita dan mendengar suaranya. Bahkan wanita dizaman salaf sentiasa meriwayatkan hadis dan mengajar manusia serta memberikan fatwa mengenai urusan agama.(jilid 13,m/s 10)

3) Imam Ghazali dalam kitabnya Ihyak (jilid 2 m/s 248) menyatakan bahawa suara perempuan selain dari nyanyian tidak dikira sebagai aurat. Bahkan wanita pada zaman sahabat sentiasa malakukan muamalah dengan lelaki ketika memberi salam, meminta fatwa, bertanya dan bermusyawarah.

4) Banyak dikalangan sahabiah Nabi SAW bertanyakan kepada nabi berkenaan hukum agama ketika sahabat-sahabat nabi yang bukan mahram berada disitu dan nabi tidak menegahnya.

5) Imam Al-Qurtubi mengharuskan bercakap dengan perempuan dan berbual dengan mereka sekiranya ada keperluan.


2) BATAS PANDANGAN SEORANG LELAKI KEPADA WANITA

Dinukilkan daripada Imam Yusof Al-Qardawi dalam kitabnya Fatawa Al-Mu`Asarah (jilid 2 m/s263) bahawa aurat seorang perempuan di sisi jumhur ulamak adalah seluruh tubuhnya melainkan muka dan kedua tapak tangannya.

Manakala di sisi Imam Abu Hanifah Dan Al-Muzani kedua tapak kaki tidaklah di kira sebagai aurat bagi seorang perempuan. Maka bolehlah bagi seorang wanita menzahirkan selain daripada auratnya, mengikut batas dan keperluan wanita kepada umum.

Tetapi persolannya, adakah harus bagi seorang lelaki memandang wajah wanita ?

Maka ulamak telah sepakat bahawa pandangan pertama terhadap wanita di hukumkan sebagai dharurat dan di maafkan oleh syarak. Manakala pandangan yang kedua, ulamak berselisihan pendapat terhadap hukumnya.


Secara pasti yang ditegah adalah pandangan berserta dengan syahwat dan keghairahan. Di sini jelaslah kepada kita bahawa hukum melihat seorang wanita pada muka dan telapak tangannya adalah di haruskan.

Tetapi disini ada kaedah syarak yang mengatakan bahawasanya sesuatu yang harus dilarang ketika kuatir berlakunya fitnah sama ada ianya berpunca dari lelaki mahupun wanita. Masalah ini sekiranya ada dalil dan bukti yang kukuh kearah berlakunya perkara tersebut.

3) PERCAMPURAN LELAKI DAN PEREMPUAN:

Berkenaan permasalahan ini terdapat beberapa pandangan ulamak mengenai percampuran lelaki dan perempuan:

1) Berkata Syeikh `Atiah Saqar dalam kitabnya “Ahsanul Kalam Fi Fatawa Wal Ahkam” . Percampuran lelaki dan perempuan yang di tegah adalah di dalam keadaan berkhalwat di antara lelaki dan wanita di tempat yang tertutup dan boleh menimbulkan fitnah.

Adapun percampuran di antara lelaki dan perempuan di tempat umum seperti di pasar, tempat pengajian, pengangkutan awam dan sebagainya tidak dikira sebagai percampuran yang diharamkan walaupun disana ada perbuatan haram yang lain seperti melihat aurat, kata-kata yang menggoda dan berlakunya sentuhan.

2) Berkata Imam Yusof Al-Qardawi dalam kitabnya Fatawa Al-Mu`Asarah (jilid 2 m/s284) Pertemuan antara lelaki dan perempuan pada zatnya bukanlah di tegah, bahkkan ianya harus dan dituntut sekiranya pertemuan dan percampuran itu mempunyai niat yang baik seperti menuntut ilmu, beribadah, perbuatan yang dianggap baik disisi syarak dan sebarang aktiviti yang baik yang memerlukan kerjasama di antara dua pihak.

Tetapi petemuan ini mestilah menjaga adab-adab Islam antara kedua pihak seperti pakaian yang di bolehkan syarak, aurat , suara dan pertemuan itu mestilah berdasarkan keperluan penting sahaja .

Kedua-dua pandangan tersebut jelas kepada kita bahawa keharusan percampuran di antara lelaki dan perempuan jika mempunyai hajat dan urusan yang penting sahaja.


4) HUKUM WANITA MENJADI WAKIL RAKYAT DALAM PARLIMEN

Doktor Ali Jum`Ah (Mufti Kerajaan Mesir) ada menyebut di dalam kitabnya “Fatawa `Asriah” bahawa harus bagi seseorang wanita menjadi wakil rakyat selagi mana ianya boleh membahagikan waktu dan tanggungjawabnya dengan baik antara tugas ahli parlimen dan seorang isteri terhadap suami dan anak-anaknya, itupun sekiranya ada dan selagi mana ianya boleh mengelak daripada musafir, tabarruj,dan khalwat yang tidak syar`ie.

Pendapat ini di kuatkan lagi dengan peristiwa bagaimana Nabi Muhammad SAW meminta pandangan dan nasihat dari isterinya Ummu Salamah dalam peristiwa Sulhu Hudaibiah ketika sahabat-sahabat nabi S.A.W yang kecewa kerana tidak boleh menunaikan umrah pada tahun tersebut. Ini menunjukkan begitu besar peranan wanita dalam memberikan pendapat di situasi tersebut.

Peristiwa yang kedua, bagaimana peranan yang dimainkan oleh Sayyidatina A’isyah ketika pertelingkahan yang berlaku antara Sayyidina Ali Dan Sayyidina Muawwiyah. Dan beliau juga salah seorang yang yang bergiat aktif memeberikan pandangan dan turut serta di dalam peperangan Sifin tersebut.

** Sekiranya wanita boleh terbabit dalam bidang politik dan di haruskan menjadi sebagai ahli parlimen, maka lebih utama hukum keharusan itu diberikan kepada wanita untuk menjadi pengerusi malis. Ini kerana apabila menjadi wakil rakyat, beliau mestilah sentiasa berada di pentas rakyat dalam mengutarakan pandangan, masalah, bantahan dan sebagainya.

Dalam masa yang sama keterlibatan beliau bersama ahli parlimen lelaki dan kebersamaannya bersama rakyat yang dipimpin olehnya juga memerlukan kepada kekerapan beliau untuk berada disituasi tersebut.

Bahkan semasa menjadi calon pun, sudah semestinya beliau melobi dirinya sendiri untuk memenangi di dalam pilihan raya dihadapan rakyat yang terdiri daripada lelaki dan perempuan.

Maka, menjadi seorang pengerusi majlis di kalangan perempuan di dalam sesebuah majlis yang disertai oleh lelaki tidaklah menjadi isu yang besar jika di bandingkan dengan ahli parlimen yang lebih besar peranannya.


KESIMPULAN

Hasil perbincangan diatas, kita boleh simpulkan bahawasanya, hukum bagi seseorang wanita menjadi pengerusi majlis dalam majlis yang disertai oleh lelaki dibolehkan berdasarkan hasil perbincangan tadi . Walaubagaimanapun, keharusan ini bukanlah secara mutlak bahkan perlu kepada garis panduannya seperti berikut :

1. Hendaklah perempuan dan lelaki saling menjaga pandangan mereka. Dalam erti kata, tidak melihat aurat dengan pandangan syahwat, tidak memandang lama tanpa tujuan yang baik. Firman Allah SWT yang bermaksud:

Katakalah kepada kaum lelaki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kehormatannya. Demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kehormatannya”. (Surah an-Nur: Ayat 30 dan 31)

2. Hendaklah mereka sentiasa memakai pakaian yang menutup aurat. Menurut jumhur ulamak maksud aurat wanita di luar solat ialah :

v Menutup seluruh anggota badan kecuali yang zahir iaitu muka dan tapak tangan.
v Pakaian yang tidak jarang dan nipis sehingga menampakkan warna tubuh dan kulit.
v Pakaian yang longgar dan tidak ketat sehingga menampakkan susuk tubuh badan.

Firman Allah SWT yang bermaksud:
Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang zahir sahaja. Dan hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dada. (Surah an-Nur: Ayat 31)

3. Sentiasa menjaga adab sebagai wanita muslimah dalam semua keadaan khasnya ketika berada di dalam majlis.

a. Perkataan

Hendaklah percakapan suaranya baik dan tidak melunakkan suara kepada orang ramai. Firman Allah SWT yang bermaksud:
Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginan orang yang ada dalam hatinya. (Surah al-Ahzab: Ayat 32)


b. Berjalan dengan sopan dan tidak menarik perhatian.

Firman Allah SWT yang bermaksud:
Dan janganlah mereka memukul kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.
(Surah an-Nur: Ayat 31).


4. Menjauhkan diri daripada perkara-perkara yang menaikkan syahwat lelaki seperti berlebih-lebihan memakai wangi-wangian, warna pakaian yang menarik perhatian dan sebagainya.

Garis panduan ini diletakkan sebagai langkah berhati-hati bagi mengelakkan fitnah yang mungkin terjadi apabila wanita berada dihadapan ketika untuk mempengerusikan majlis. Wallahua’lam.

Disediakan oleh FELO MANHAL PMRAM :

1) Mohamad Sarkawi Bin Mohmad Salleh.
2) Rabiatul Adawiyah Syamsudin

Hari Raya Pada Hari Jumaat : Adakah Gugur Kefardhuan solat Jumaat ?

Alhamdulillah, bersyukur kita kepada Allah S.W.T kerana telah berjaya menamatkan ibadah puasa pada tahun 1431H ini . Mudah-mudahan amalan puasa yang kita telah lakukan pada kali ini di terima oleh Allah S.W.T sebagai amalan yang terbaik berbanding ramadhan yang telah kita lalui sebelum ini.
Kita juga sedia maklum bahawa 1 Syawal pada tahun ini jatuh pada hari Jumaat yang merupakan penghulu segala hari. Maka sudah pasti akan berlakunya dua kali khutbah yang akan di sampaikan oleh khatib setiap masjid di serata dunia. Namun apakah pandangan para ulama terhadap masalah ini, yang jarang-jarang sekali berlaku di kalangan kita.
Persoalannya apabila Hari Raya Aidil Fitri atau Aidil Adha jatuh pada hari Jumaat, adakah gugur solat Jumaat setelah dilakukan solat Hari Raya pada pagi tersebut ?
Pandangan Para Fuqaha’
Para Ulamak Islam telah berselisihan pendapat kepada tiga pandangan seperti berikut :
Pendapat Pertama
Ø Solat Jumaat Gugur Apabila Telah Di Kerjakan Solat Hari Raya Puasa Atau Hari Raya Aidil Adha Pada Paginya.
Pendapat ini di keluarkan oleh Mazhab Hambali, A’to bin Abi Robah, Ali bin Abi Tolib, Abdullah bin Zubair, As-Sya’bi, Al-Auzaei’, dan An-Nakhaei’.
Dalil Pendapat Pertama
1) Hadis Abu Hurairah
Maksudnya : Rasulallah S.A.W telah bersabda : sesungguhnya pada hari ini, hari raya telah berhimpun dengan hari Jumaat, sesiapa yang menghendaki dia boleh memadai solat Jumaat ( gugur solat Jumaat ) dengan dia menunaikan solat hari raya. ( hadis riwayat oleh Abu Daud, Ibnu Majah, Al-Khotib Al-Baghdadi, Al-Hakim dan Al-Baihaqi.
2) Hadis Zaid bin Arqam
Maksudnya : Zaid bin Arqam berkata : Aku menyaksikan bersama nabi S.A.W ketika hari raya yang berhimpun dengan solat Jumaat pada hari yang sama, kemudian Rasulallah S.A.W memberi pelepasan untuk solat Jumaat sambil berkata : “Sesiapa yang ingin solat Jumaat maka dia boleh melakukannya”. ( Hadis riwayat An-Nasaei, Abu Daud, Ad-Darimi, Al-Hakim dan Al-Baihaqi.
Dua hadis ini menunjukkan kepada kita, bahawa gugurnya kewajipan menunaikan solat Jumaat pada hari tersebut, menurut kepada pendapat yang pertama ini.
PERINGATAN :
Mazhab Hambali berpendapat solat Jumaat gugur bagi makmum sahaja, manakala bagi Imam tidak gugur sama sekali solat Jumaat. Seperti yang dinyatakan oleh Imam Ibnu Quddamah di dalam Al-Mughni seperti berikut :
Adapun Imam tidak gugur solat Jumaatnya kerana sabda Nabi S.A.W :
اجتمع في يومكم هذا عيدان فمن شاء أجزأه من الجمعة وإنا مجمعون. ( رواه ابن ماجة )
Maksudnya : Hari ini telah berhimpun dua hari raya ( hari raya dan hari jumaat ), maka sesiapa yang hendak, dia boleh menunaikan solat hari raya dan meninggalkan solat Jumaat. Sesunggunhnya kami menunaikan solat Jumaat ( kerana baginda merupakan Imam ). (Riwayat Ibnu Majah).
Sesungguhnya jika imam tidak menunaikan solat Jumaat nescaya mereka yang wajib menunaikan solat Jumaat dan yang tidak wajib tetapi berhasrat untuk pergi solat Jumaat tidak dapat menunaikan solat Jumaat ( kerana tiada Imam ). ( Al-Mughni 2/212 ).
Pendapat Kedua
Ø Solat Jumaat Tidak Gugur Walaupun Telah Menunaikan Solat Hari Raya Pada Pagi Jumaat.
Pendapat ini menurut Mazhab Hanafi , Mazhab Maliki, sebahagian Ulamak As-Syafi’yyah dan Mazhab Az-Zohiri. Menurut Ibnu Qudamah juga, beliau berpandangan bahawa pendapat ini dipegang oleh kebanyakan para fuqaha’.
Dalil Pendapat Kedua
Pendapat kedua ini, menyatakan solat Jumaat tidak gugur dengan dilaksanakan solat hari raya samaada penduduk yang tinggal berhampiran dengan masjid ataupun tinggal jauh di kawasan pendalaman masjid dengan mendatangkan dalil seperti berikut :
1) Berdasarkan dalil umum di dalam ayat Al-Quran surah Al-Jumu’ah ayat ke 9 yang bermaksud :
Wahai orang-orang Yang beriman! apabila diserukan azan untuk mengerjakan sembahyang pada hari Jumaat, maka segeralah kamu pergi (ke masjid) untuk mengingati Allah (dengan mengerjakan sembahyang jumaat) dan tinggalkanlah berjual-beli (pada saat itu); Yang demikian adalah baik bagi kamu, jika kamu mengetahui (hakikat Yang sebenarnya),
2) Hadis Abdullah Ibnu Umar dan Abu Hurairah
Maksudnya : Rasulallah S.A.W telah bersabda di atas mimbar, hendaklah mereka menghentikan daripada perbuatan meninggalkan solat Jumaat ataupun Allah S.W.T akan menutup pintu hati mereka lalu mereka menjadi orang-orang yang lalai. ( hadis diriwayatkan oleh Imam Muslim ).
Daripada pendapat ini, menyatakan adalah solat Jumaat itu adalah wajib dan Fardhu A’in menurut Ijtima’ ummat Islam. Ibnu Hazam juga berpandangan bahawa solat Jumaat itu fardhu, manakala solat hari raya itu adalah sunat. Perkara yang sunat tidak boleh sama sekali menggugurkan perkara yang wajib.
Pendapat Ketiga
Ø Solat Jumaat Gugur Bagi Mereka Yang Tinggal Dikawasan Pendalaman, Setelah Pulang Dari Solat Hari Raya Pada Hari Jumaat.
Pendapat ini di pegang oleh Mazhab As-Syafie.
Dalil Pendapat Ketiga
Pendapat ketiga yang berpendapat solat Jumaat tidak gugur melainkan kepada penduduk pendalaman yang sukar ke masjid setelah menunaikan solat hari raya secara berjemaah ( Al-Muhazzab 1/360 ), berdasarkan kepada hadis Saidina Usman bin Affan :
Maksudnya : Saidina Usman bin Affan berucap di dalam khutbahnya, “ wahai manusia sesunggugnya hari raya telah berhimpun dengan hari Jumaat pada hari ini. Sesiapa dari kalangan penduduk A’liyah ( sebuah kampung di Madinah ) yang hendak bersembahyang Jumaat bersama kami, maka sembahyanglah. Jika hendak pulang, maka dia boleh beredar ”. ( Riwayat Imam Bukhari, Imam Malik dan Imam Abu Daud ).
Daripada pandangan yang ketiga ini, solat Jumaat tetap hukumnya adalah wajib walaupun bertembung dengan hari raya, melainkan terdapat kesusahan kepada penduduk yang tinggal di kawasan pendalaman sahaja di beri kelonggaran untuk meninggalkan solat Jumaat pada hari tersebut. Adapun solat Zohor tetap hukumnya wajib dilakukan oleh mereka yang meninggalkan solat Jumaat pada hari tersebut.
Daripada pendapat-pendapat ini, secara praktikal dan keadaan semasa lebih sesuai kita mengambil padangan yang kedua dan ketiga yang menetapkan hukum solat Jumaat adalah wajib dilakukan oleh seluruh orang Islam kerana dalil yang digunakan oleh pendapat yang berpandangan gugur solat Jumaat pada hari tersebut, telah di kritik oleh beberapa ulamak berdasarkan dalil kesahihan hadis tersebut.
Penilaian Terhadap Dalil Yang Digunakan Oleh Pendapat Pertama
· Sanad hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah adalah Dhoi’f. Antara ulamak yang berpendapat demikian ialah :
1) Imam Ibnu Abdul Bar telah menyatakan bahawa hadis ini diriwayatkan oleh Syu’bah dari Baqiah bin Walid. Baqiah adalah perawi yang dhoi’f dan tidak boleh berhujah dengan hadisnya.
2) Imam Daruqutni juga berpandangan bahawa hadis ini adalah gharib.
· Sanad hadis yang diriwayatkan oleh Zaid bin Arqam adalah dhoi’f, seperti yang dinyatakan oleh para ulamak. Di sini dinyatakan beberapa kritikan mengenai lemahnya hadis tersebut seperti berikut :
1) Syeikh Al-Khauthari telah berkata bahawa pada sanad hadis ini ada perawi yang bernama Israel bin Yunus yang mana Ibnu Madani dan Ibnu Hazam telah menghukumnya sebagai seorang yang dhoi’f.
2) Imam Abu Khuzaimah berkata :
Sekiranya betul hadis ini, aku tidak kenal Iyas bin Abi Ramlah samaada adil atau tidak.
3) Imam As-Syaukani berkata :
Sanad hadis Zaid mengandungi perawi yang bernama Iyas bin Abi Ramlah, sedangkan ia majhul (tidak mengetahui keadaan perawi tersebut samaada dari segi siapakah beliau ataupun keadaannya).
Kesimpulan
Jika kita melihat dari segi waqi' kita di Malaysia yang beramal dengan mazhab Imam As-Syafie, maka lebih sesuai pandangan beliau di ketengahkan kepada masyarakat kita. Walaupun Imam As-Syafie juga berpendapat ketika di dalam keadaan kesusahan atau penduduk yang tinggal di kawasan pendalaman yang sukar untuk berulang-alik dari kediamannya untuk ke masjid di berikan kelonggaran untuk meninggalkan solat Jumaat pada hari tersebut. Namun dalam konteks kita di Malaysia, mungkin masalah tersebut tidak akan berlaku, kerana setiap sesuatu kawasan pasti akan terdapat sebuah masjid yang berhampiran untuk kemudahan penduduk setempat.
Mudah-mudahan perkongsian artikel pada kali ini mampu memberikan panduan kepada kita semua para sidang pembaca terhadap perselisihan pendapat yang berlaku dikalangan Ulamak. Waallahua'lam.
Kullu A’am Wa Antum Bi Khair.
Di sediakan oleh :
Mohamad Hanif Bin Haron
( Pengerusi FELO MANHAL )

sumber asal : pmram-manhal.blogspot.com/



Talkin.. Ingatan buat yg hidup

Bismillahirrahmanirrahim..

Mahasuci Tuhan yang Engkau bersifat dengan Baqa' dan Qidam, Tuhan yang berkuasa mematikan sekalian yang bernyawa, Mahasuci Tuhan yang menjadikan mati dan hidup untuk menguji siapa yang baik dan siapa yang kecewa.

Mahasuci Tuhan yang menjadikan lubang kubur sebesar-besar pengajaran untuk menjadi iktibar kepada orang yang lalai, dan sebesar-besar amaran kepada orang yang masih hidup.

Ingatlah! Bahawa sekalian mahluk Allah akan jahanam dan binasa,melainka! n zat Allah Taala. Ialah Tuhan yang Mahabesar kuasa menghukum, manakala kita sekalian akan kembali menghadap hadirat Allah Taala.

Wahai SAYA Bin IBU SAYA, wahai SAYA Bin IBU SAYA, wahai SAYA Bin IBU SAYA, hendaklah kamu ingat akan janji-janji Allah yang mana kamu ada bawa bersama-sama dari dunia ini.
Sekarang kamu telah menuju masuk ke negeri Akhirat. Kamu telah mengaku bahawa tiada Tuhan yang disembah dengan sebenar-benarnya melainkan Allah, dan bahawa senya Nabi Muhammad itu Pesuruh Allah.
Ingatlah wahai SAYA Bin IBU SAYA, apabila datang kepada kamu 2 orang malaikat yang serupa dengan kamu iaitu Mungkar dan Nakir, maka janganlah berasa gentar dan takut, janganlah kamu berdukacita dan risau serta janganlah kamu susah-hati dan terkejut.
Ketahuilah wahai SAYA Bin IBU SAYA, bahawasanya Mungkar dan Nakir itu hamba Allah Taala, sebagaimana kamu juga hamba Allah Taala. Apabila mereka menyuruh kamu duduk, mereka juga akan menyoal kamu.



Mereka berkata:
Siapakah Tuhan kamu?
Siapakah Nabi kamu?
Apakah agama kamu?
Apakah kiblat kamu?
Siapakah saudara kamu?
Apakah pegangan iktikad kamu?
Dan apakah kalimah yang kamu bawa bersama-sama kamu?
Di masa itu hendaklah kamu menjawab soalan-soalan mereka dengan cermat dan sehabis-habis terang, tepat dan betul.
Janganlah berasa gementar, janganlah takut dan janganlah bergopoh-gapah, biarlah tenang dan berhati-hati.
Hendaklah kamu jawab begini:

Allah Taala Tuhanku,

Muhammad nabiku,

Islam agamaku,

Kitab suci Al-Quran ikutanku,

Baitullah itu qiblatku, malahan solah lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat dan mengerjakan haji diwajibkan ke atas aku. Semua orang Islam dan orang yang beriman adalah saudara aku, bahkan dari masa hidup hingga aku mati aku mengucap: "La ila ha illallah Muhammaddur rasulullah".

Wahai SAYA Bin IBU SAYA tetapkanlah hatimu, inilah dia suatu dugaan yang paling besar. Ingatlah bahawa kamu sekarang sedang tinggal didalam alam Barzakh, sehingga sampai satu masa kelak, kamu akan dibangunkan semula untuk berkumpul di Padang Mahsyar.

Insaflah wahai SAYA Bin IBU SAYA, bahawasanya mati ini adalah benar, soalan malaikat Mungkar dan Nakir di dalam kubur ini adalah benar,bangun dari kubur kemudian kita dihidupkan semula adalah benar,berkumpul dan berhimpun di Padang Mahsyar adalah benar, dihisab dan dikira segala amalan kamu adalah benar, minum di kolam air nabi adalah benar, ada syurga dan neraka adalah benar.

Bahawasanya hari Kiamat tetap akan adanya, begitu juga Tuhan yang maha berkuasa akan membangkitkan semula orang-orang yang di dalam kubur.

Di akhirnya kami ucapkan selamat berpisah dan selamat tinggal kamu disisi Allah Taala. Semoga Tuhan akan memberi sejahtera kepada kamu. Tuhan jua yang menetapkan hati kamu. Kami sekalian berdoa mudah mudahan Allah Taala menjinakkan hati kamu yang liar, dan Allah menaruh belas kasihan kepada kamu yang berdagang seorang diri di dalam kubur ini.Mudah-mudahan Tuhan akan memberi keampunan dan memaafkan kesalahan kamu serta menerima segala amal kebajikan kamu.

Ya Allah Ya Tuhan, kami merayu dan bermohon kepada Mu supaya tidak disiksa mayat ini dengan kemegahan penghulu kami Muhammad SAW.

Subhana rabbika rabbil izati amma ya sifun wassallamu alalmursalinwalham dulillahi rabbil alamin.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

..:: Jom Kongsi ::..